Remaja Kulit Hitam Menunjukkan Literasi Digital Unggul dalam Mengidentifikasi Disinformasi Rasial

0
19

Sebuah studi baru dari University of California Riverside mengungkapkan bahwa Remaja kulit hitam dan Latin menunjukkan keterampilan literasi digital yang jauh lebih kuat dibandingkan rekan-rekan kulit putih mereka dalam mengenali dan merespons disinformasi online yang bermuatan rasial. Temuan ini menantang asumsi sebelumnya dan menyoroti peran penting pengalaman hidup dalam mengembangkan kemampuan ini.

Lanskap Disinformasi dan Mengapa Ini Penting

Penyebaran narasi palsu dan propaganda rasis di platform media sosial seperti X (sebelumnya Twitter) dan alat berbasis AI seperti ChatGPT telah menciptakan lingkungan digital yang beracun. Ini bukan hanya masalah insiden yang terisolasi; penyebaran disinformasi mengikis kepercayaan terhadap institusi, memicu perpecahan sosial, dan dapat menimbulkan dampak buruk di dunia nyata. Temuan penelitian ini sangat relevan saat ini, karena sekolah-sekolah di Amerika Serikat menghadapi reaksi keras karena mengajarkan teori ras kritis, sehingga menimbulkan kesenjangan dalam pendidikan formal mengenai aspek rasial dari manipulasi online.

Temuan Penting dari Studi ini

Peneliti Avriel Epps dan Brendesha Tynes menganalisis perilaku digital lebih dari 100 remaja kulit hitam, Latin, dan kulit putih, melacak cara mereka berinteraksi dengan konten terkait ras. Hasilnya menunjukkan pola yang jelas:

  • Remaja kulit hitam dan Latin lebih cenderung mengidentifikasi klaim palsu atau rasis.
  • Mereka secara aktif memverifikasi informasi dengan sumber yang kredibel sebelum membagikannya.
  • Mereka menanggapi disinformasi dengan koreksi berdasarkan fakta.

Fenomena ini, yang disebut “Literasi Digital Ras Kritis” (CRDL), bukanlah hasil dari kecerdasan bawaan, melainkan efek kumulatif dalam menghadapi dunia di mana agresi mikro rasial dan rasisme sistemik adalah hal yang biasa.

“Mereka mengembangkan keterampilan penting ini dari pengalaman hidup mereka menghadapi rasisme online, tidak harus dari pengajaran berbasis sekolah.” – Avriel Epps, Asisten Profesor UC Riverside

Mengapa Pendidikan yang Ada Gagal Mengatasi Masalah Ini

Program literasi media tradisional di sekolah sering kali mengabaikan dimensi rasial dalam disinformasi. Ini adalah pengawasan yang sangat penting, karena remaja kulit putih, yang jarang menjadi sasaran rasisme digital, belum mengembangkan tingkat kewaspadaan yang sama. Mereka tidak harus begitu sadar atau cerdas.

Studi ini menggarisbawahi bahwa pengalaman hidup adalah pendidik yang ampuh. Remaja kulit hitam dan Latin telah belajar untuk “sangat waspada” di ruang digital, terus-menerus menilai informasi untuk mencari bias dan ketidakakuratan.

Implikasinya Bagi Pendidik

Tim peneliti menekankan bahwa pedagogi yang responsif secara budaya sangat penting di semua disiplin ilmu, termasuk literasi digital. Sederhananya, pengajaran harus mencerminkan realitas kehidupan siswa agar efektif.

Penulis penelitian ini menganjurkan untuk mengintegrasikan pelajaran tentang CRDL ke dalam kurikulum sekolah, dengan menyadari bahwa pemuda kulit hitam dan Latin sudah melakukan pekerjaan ini untuk komunitas mereka. Tujuannya bukan untuk memaksakan keterampilan baru, namun untuk mengakui dan mengembangkan kekuatan yang sudah ada.

Pada akhirnya, penelitian ini menyoroti perlunya pemahaman yang lebih mendalam mengenai literasi digital, dan mengakui bahwa navigasi ruang online yang efektif tidak hanya memerlukan keterampilan teknis, namun juga kesadaran kritis terhadap dinamika sosial dan ras.