Kesepian Remaja: Mengapa Rasa Memiliki Penting bagi Kesejahteraan Remaja

0
18

Masa remaja adalah masa perubahan sosial yang cepat, dan bagi banyak remaja, masa ini ditandai dengan perubahan persahabatan, transisi sekolah, dan berkembangnya kesadaran diri. Di tengah perubahan ini, kesepian semakin menjadi kekhawatiran, tidak hanya sebagai emosi yang menyakitkan tetapi juga sebagai faktor risiko masalah kesehatan mental dan kelelahan akademis. Penelitian terbaru dari Finlandia menggarisbawahi pentingnya peran sosial dalam memitigasi risiko-risiko ini.

Pergeseran Lanskap Hubungan Sosial

Selama beberapa dekade, penelitian menunjukkan adanya penurunan modal sosial dan keterlibatan masyarakat, bahkan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Tren ini—yang didokumentasikan oleh peneliti seperti Robert Putnam—menunjukkan erosi yang lebih luas terhadap jaringan sosial yang pernah memberikan dukungan dan koneksi. Di dunia di mana individu semakin terisolasi, remaja mungkin tidak memiliki ikatan komunitas yang kuat seperti yang dimiliki generasi sebelumnya.

Bagaimana Kesepian Berkembang di Masa Remaja

Sebuah studi longitudinal yang mengamati 2.765 remaja Finlandia berusia 12 hingga 19 tahun mengungkapkan bahwa kesepian tidak hanya terjadi di satu jalur saja. Para peneliti mengidentifikasi enam lintasan kesepian yang berbeda : beberapa remaja secara konsisten mengalami tingkat kesepian yang rendah, sementara remaja lainnya menghadapi tingkat kesepian yang kronis atau berfluktuasi. Sebagian besar minoritas—sekitar sepertiga dari responden yang disurvei—mengalami peningkatan rasa kesepian pada masa remaja.

Temuan Penting:

  • Remaja yang paling rentan adalah mereka yang rasa kesepiannya semakin meningkat seiring berjalannya waktu, terutama pada masa transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah atas.
  • Yang mengejutkan, remaja yang sangat kesepian cenderung memiliki prestasi akademis yang baik, mungkin karena mereka menyalurkan energinya untuk belajar daripada kehidupan sosial.
  • Kesepian berhubungan dengan depresi dan kelelahan namun tidak tampaknya berkorelasi langsung dengan penggunaan narkoba.

Kekuatan Rasa Memiliki

Temuan studi yang paling signifikan adalah efek perlindungan dari kepemilikan sosial. Remaja yang memiliki rasa keterhubungan yang kuat dengan berbagai kelompok—teman, sekolah, hobi, dan bahkan komunitas yang lebih luas—cenderung tidak mengalami kesepian kronis. Menjadi bagian dari kelompok yang beragam sangatlah penting : hanya mengandalkan satu sumber dukungan sosial (seperti satu kelompok teman) dapat membuat remaja rentan jika hubungan tersebut melemah.

Secara khusus, tingkat rasa memiliki yang lebih tinggi di beberapa bidang dikaitkan dengan tingkat kesepian yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa mendorong remaja untuk terlibat dalam berbagai aktivitas—mulai dari olahraga dan klub hingga kerja sukarela—dapat menjadi penyangga terhadap isolasi.

Yang Dapat Dilakukan Keluarga dan Pendidik

Implikasinya bagi pengasuh sangat jelas: secara aktif mendukung keterlibatan remaja dalam berbagai lingkaran sosial. Dorong partisipasi dalam kegiatan yang membina hubungan, baik itu kelompok belajar, tim olahraga, atau organisasi masyarakat.

Namun, rasa memiliki harus bersifat inklusif. Remaja harus merasa diterima apa adanya, tanpa memandang gender, agama, atau identitas lainnya.

Gambaran Lebih Besar

Kesepian pada remaja bukan hanya masalah individu; ini mencerminkan tren masyarakat yang lebih luas. Ketika komunitas melemah dan ikatan sosial melemah, remaja mungkin kesulitan menemukan koneksi yang mereka perlukan untuk berkembang. Berinvestasi pada jaringan sosial yang kuat dan inklusif sangat penting untuk menjaga kesejahteraan generasi mendatang.

Pada akhirnya, temuan-temuan ini memperkuat pesan sederhana namun kuat: manusia adalah makhluk sosial, dan rasa memiliki bukan sekadar sesuatu yang enak untuk dimiliki—tetapi merupakan kebutuhan mendasar.