Bagi banyak orang, tidur malam yang nyenyak tidak terasa seperti kebutuhan biologis dan lebih seperti tujuan kinerja. Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan dampak tidur terhadap kesehatan—mulai dari fungsi kognitif hingga proses metabolisme—demikian pula dengan pasar untuk “optimasi tidur”. Saat ini, aplikasi teknologi dan kesehatan yang dapat dikenakan mengubah istirahat menjadi pengalaman yang dapat diukur dan digamifikasi, tetapi apakah teknologi ini benar-benar meningkatkan kualitas tidur, atau hanya menambah lapisan kecemasan?
Pasar Teknologi Tidur yang Berkembang
Diperkirakan 30% orang dewasa AS kini menggunakan perangkat seperti Apple Watches dan Oura Rings untuk memantau tidur mereka. Industri ini sedang booming dan diproyeksikan akan menghasilkan pendapatan dua kali lipat pada tahun 2030, mencapai $5 miliar. Perangkat ini melacak biometrik utama—pernapasan, detak jantung, pergerakan—dan menetapkan “skor tidur” numerik untuk setiap malam.
Daya tariknya jelas: masyarakat menginginkan data. Namun para ahli memperingatkan bahwa pengukuran objektif tidak menjamin istirahat yang lebih baik. “Memberikan ukuran tidur yang obyektif mungkin memberikan perspektif yang berbeda,” kata Dr. Mike Gradisar, psikolog klinis dan peneliti tidur, “tetapi informasi ini saja tidak akan membantu Anda tidur lebih nyenyak.”
Kelebihan dan Kekurangan Istirahat Berbasis Data
Pelacakan tidur bisa bermanfaat. Bagi mereka yang meremehkan waktu tidurnya, data ini dapat membangun kembali kepercayaan diri. Penelitian menunjukkan penderita insomnia sering melebih-lebihkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk tertidur sebanyak sekitar 30 menit dan meremehkan total waktu tidur sebanyak 46 menit. Pelacakan dapat mengungkap pola tidur sebenarnya, yang kemudian dapat dibagikan kepada dokter untuk diagnosis yang lebih baik.
Namun, batas antara optimasi dan obsesi sangatlah tipis. “Orthosomnia,” suatu fiksasi yang tidak sehat pada data tidur yang sempurna, dapat berkembang ketika orang secara kompulsif memeriksa skor tidur mereka alih-alih berfokus pada perasaan istirahat. Meskipun jarang terjadi, fenomena ini dapat mengubah pengembangan diri menjadi sumber stres.
Penting juga untuk diperhatikan bahwa pelacak tidur tidaklah sempurna. Mereka sering kali melebih-lebihkan durasi tidur dan tidak dapat menggantikan alat klinis seperti polisomnografi. Masalah tidur yang serius—seperti insomnia atau sleep apnea—memerlukan perhatian medis ahli.
Pelacakan Tidur untuk Remaja: Pedang Bermata Dua
Remaja merupakan kelompok yang paling rentan. National Sleep Foundation merekomendasikan waktu tidur 8–10 jam (terkadang hingga 11 ), namun sebagian besar remaja AS mengalami kurang tidur kronis. Untuk kelompok usia ini, pelacakan tidur dapat menjadi pedang bermata dua: hal ini dapat mendorong perubahan, namun juga menambah tekanan yang ada dari sekolah, kehidupan sosial, dan teknologi.
Para ahli menyarankan orang tua untuk mengizinkan remaja memantau tidur mereka jika mereka mau, namun menekankan bahwa data harus digunakan sebagai informasi, bukan penilaian. Tujuannya adalah untuk menghubungkan kurang tidur dengan konsekuensi di dunia nyata—seperti rasa grogi akibat menonton di malam hari—tanpa menimbulkan rasa cemas atau malu.
Pendekatan Sehat untuk Tidur Gamified
Kuncinya adalah moderasi. Daripada mengejar skor sempurna, fokuslah pada peningkatan satu atau dua metrik inti: total waktu tidur dan waktu terjaga. Kebanyakan orang dewasa membutuhkan 7–9 jam tidur, dan sering terbangun selama 15 menit harus diperiksa.
Meskipun banyak perangkat yang mengklaim dapat meningkatkan kualitas tidur, para ahli memperingatkan terhadap obat ajaib. Teknologi yang dapat dipakai dapat menyoroti tren yang tidak sehat dan mendorong perubahan gaya hidup, namun teknologi tersebut tidak akan memperbaiki kebiasaan buruk dengan sendirinya. Cincin Oura, yang dikenakan di jari yang sinyal arterinya lebih kuat, cenderung memberikan data yang lebih akurat dibandingkan beberapa jam tangan pintar.
Pada akhirnya, persepsi subjektif itu penting. Dr Gradisar mencatat bahwa orang sering meremehkan kesehatan tidur mereka. Jika Anda terbangun dengan perasaan lelah meski skor tidurnya tinggi, percayalah pada tubuh Anda. Data adalah satu bagian dari teka-teki, bukan gambaran keseluruhan.
Pendekatan paling efektif untuk tidur bukanlah tentang mencapai skor sempurna. Ini tentang menggunakan data sebagai alat untuk kesadaran diri dan membuat pilihan yang mendukung istirahat alami.















